Sabtu, 10 Desember 2016

Resensi Sang Pemimpi



Identitas Buku
Judul : Sang Pemimpi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Halaman : x + 292
Novel Sang Pemimpi menceritakan tentang sebuah kehidupan tiga oranganak Melayu Belitong yaitu Ikal, Arai, dan Jimbron yang penuh dengantantangan, pengorbanan dan lika-liku kehidupan yang memesona sehinggakita akan percaya akan adanya tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpidan kekuasaan Allah. Ikal, Arai, dan Jimbron berjuang demi menuntut ilmudi SMA Negeri Bukan Main yang jauh dari kampungnya. Mereka tinggal disalah satu los di pasar kumuh Magai Pulau Belitong bekerja sebagai kulingambat untuk tetap hidup sambil belajar.
Ada Pak Balia yang baik dan bijaksana, beliau seorang Kepala Sekolahsekaligus mengajar kesusastraan di SMA Negeri Bukan Main, dalam novelini juga ada Pak Mustar yang sangat antagonis dan ditakuti siswa, beliauberubah menjadi galak karena anak lelaki kesayangannya tidak diterima diSMA yang dirintisnya ini. Sebab NEM anaknya ini kurang 0,25 dari batasminimal. Bayangkan 0,25 syaratnya 42, NEM anaknya hanya 41,75.Ikal, Arai, dan Jimbron pernah dihukum oleh Pak Mustar karena telahmenonton film di bioskop dan peraturan ini larangan bagi siswa SMA NegeriBukan Main. Pada apel Senin pagi mereka barisnya dipisahkan, danmendapat hukuman berakting di lapangan sekolah serta membersihkanWC.Ikal dan Arai bertalian darah.
Nenek Arai adalah adik kandung kakek Ikaldari pihak ibu,ketika kelas 1 SD ibu Arai wafat dan ayahmya juga wafatketika Arai kelas 3 sehingga di kampung Melayu disebut Simpai Keramat.Sedangkan Jimbron bicaranya gagap karena dulu bersama ayahnya bepergian naik sepeda tiba-tiba ayahnya kena serangan jantung dan Jimbron pontang-panting membawa ayahnya panik. Ia sangat antusiassekali dengan kuda, segala macam kuda ia tahu.
Ayah Ikal bekerja di PN Timah Belitong, ayahnya pendiam tapi kasihsayangnya sangat besar, dia bersepeda ke Magai 30 kilometer hanya untukmengambil rapot anaknya di SMA Negeri Bukan Main. Dan ibu Ikalmenyiapkan baju safari ayah dengan menyalakan setrika arang dan gesitmemercikan air pandan dan bunga kenanga yang telah direndam semalam.Ketika belajar di lapangan sekolah Pak Mustar berkata : “Jelajahikemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannyabudaya sampai ke Prancis.
Langkahkan kakimu di atas altar suci almamaterterhebat tiada tara Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur,Montesquieu, Voltaire. Disanalah orang belajar science, sastar, dan senihingga mengubah peradaban”. Ikal dan Arai tak berkedip ketika Pak Baliamemperlihatkan gambar yang tampak seorang pelukis dibelakang kanvasberdiri menjulang Menara Eiffel yang menunduk memerintahkan SungaiSeine agar membelah diri menjadi dua tepat dikaki-kakinya.Saat itulah mereka mengkristalkan harapan agung dengan statement yangsangat ambisius : Cita-cita kami adalah kami ingin sekolah ke Prancis! Inginmenginjakan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajah Eropasampai ke Afrika.Dengan perjuangan hidup mesti serba terbatas dan banyak rintangan Ikaldan Arai akhirnya diterima kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis.Sedangkan Jimbron tetap di Belitong mengurusi kuda milik capo.

1 komentar: